Home / Materi Otomotif / Fungsi Komponen Pada Mesin 2 Tak Sepeda Motor
Konstruksi dan Fungsi Komponen Pada Mesin 2 Tak Sepeda Motor
Konstruksi dan Fungsi Komponen Pada Mesin 2 Tak Sepeda Motor

Fungsi Komponen Pada Mesin 2 Tak Sepeda Motor

Fungsi Komponen Pada Mesin 2 Tak – Era motor 2 tak mungkin sudah gak jaman lagi. Saat ini, motor sudah memakai teknologi terbaru yaitu teknologi injeksi. Tapi tidak ada salahnya kalau kita yang hidup di era injeksi untuk mempelajari konstruksi dasar dan komponen pada mesin 2 tak ini.

Fungsi Komponen Pada Mesin 2 Tak Sepeda Motor

Sebelum kamu membaca lebih jauh mengenai konstruksi dasar dan komponen-komponen yang terdapat pada mesin 2 tak, alangkah lebih baik kamu memahami dulu cara kerja mesin 2 tak.

Jika kamu telah membaca salah satu artikel mengenai teknik otomotif yang membahas tentang cara kerja mesin 2 tak. Kali ini saatnya membahas konstruksi dan fungsi komponen pada mesin mesin 2 tak sepeda motor.

1. Cylinder Head / Kepala Silinder

Cylinder head juga merupakan ruang pembakaran, biasanya terbuat dari aluminium campuran yang mempunyai ketahanan panas yang tinggi. Pada bagian dinding cylinder, di berikan sirip-sirip.

Adapun ukuran dan bentuk dari ruang bakar ditentukan oleh efisiensi pendinginan. Untuk efisiensi pembakaran dan pembilasan biasanya dengan bentuk kubah dan posisi busi tepat berada ditengahnya. Volume ruang bakar berpengaruh langsung dengan perbandingan kompresi.

2. Cylinder / Silinder Blok

Cylinder sebagai tempat piston, dan merupakan sumber tenaga mesin. Mempunyai lubang pemasukan dan pengeluaran yang mana ukuran,

bentuk dan posisinya berpengaruh besar terhadap prestasi mesin.

Untuk memancarkan panas dibuat sirip-sirip. Cylinder harus mempunyai ketahanan panas yang tinggi, dan tekanan yang tinggi. Cepat memancarkan panas untuk mengurangi panas yang berlebihan.

Cylinder besi tuang/cast iron

Terbuat dani besi tuang, cylinder besi tuang mudah pembuatannya, tetapi berat pada umumnya dipakai pada sepeda motor berukuran kecil.

Cylinder aluminium, dengan sleeve besi

Cylinder ini dibuat dari aluminium cor, dengan campuran besi tuang yang istimewa, dengan dicetak atau dengan proses penyusutan. Dibandingkan dengan besi tuang, berat dan pemancaran panasnya lebih baik. Dipakai pada sepeda motor ukuran menengah dan besar.

Cylinder aluminium

Dibuat dari campuran aluminium, dan bagian dalamnya diplating dengan croome yang keras, ringan dan mudah memancarkan panas, dipakai terutama pada sepeda motor balap.

3. Piston

Piston naik turun didalam cylinder, dan dibagian atas membentuk ruang pembakaran dan memutar poros engkol, melalui connecting rod. Dan juga membuka dan menutup lubang-lubang di cylinder.

Piston selalu memerima temperatur dan tekanan yang tinggi, bergerak dengan kecepatan tinggi dan terus menerus. Piston harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya, kuat dan dapat memancarkan panas, dan menerima tekanan panas.

Untuk itulah hampir semua piston dibuat dari aluminium campuran tetapi kurang bagus dalam menerima tekanan panas, jika dibandingkan dengan cylinder logam campuran. Untuk menutupi kekurangan ini, berbagai cara telah dilakukan untuk membuat bahan dan bentuknya, antara lain ;

Piston material

LO-EX: Nilai muai lebih tingi dari pada Hi-Si (high silicon), tetapi ketahanan panasnya lebih tinggi. (dipakai pada mesin-mesin racing)

Hi-Si: Nilai muai lebih rendah dari pada LO-EX, tetapi ketahanan panasnya lebih rendah. (dipakai pada mesin-mesin standart pada umumnya)

Sebenarnya piston berbentuk kerucut, yaitu diameter kepala piston lebih kecil dari pada diameter piston bagian bawah disebut “Taper Piston”.

Temperatur yang diterima oleh piston berbeda-beda dan pengaruh panasnya juga berbeda dari permukaan ke permukaan lainnya. Kepala piston menerima langsung temperatur yang inggi dari proses pembakaran oleh karena itu, kepala piston dibuat lebih kecil dari pada dibagian bawah.

Untuk tempat pin piston harus mempunyai kekuatan yang tinggi dibanding dengan tempat lainnya, oleh karenanya dibuat lebih tebal sedangkan bos pin piston, akan menerima tekanan lebih besar karena itu, kepala piston dibuat dengan bentuk “oval” jka dilihat dari atas.

Ada beberapa piston yang lubang pin piston yang dipasang tidak tepat ditengah (offset). Dinding cylinder cenderung mengalami keausan kearah samping, karena piston bergerak kearah samping oleh connecing rod maka untuk mencegah gaya kesamping, posisi pin piston diletakkan sedikit diluar dari garis sumbu piston (offset) bisa kearah lubang pemasukan, atau lubang pengeluaran tergantung dari ukuran, bentuk piston, atau keseimbangan (balance). Sambungan ring piston dipasang pada pin yang terdapat pada alur ring piston.

Kelonggaran piston / Piston clearance

Celah antara Piston dan dinding cylinder disebut “Piston Clearence”, clearence ini penting untuk memberikan ruang gerak dari pemuaian piston karena panas. Jika piston clearence terlalu besar, maka piston akan timbul bunyi (noise), dan jika terlalu kecil, jka menerima panas akan menimbulkan kemacetan.

Piston clearence dihitung dari diameter bagian dalam cylinder dikurangi dengan diameter piston (dan dinyatakan dalam satuan mm).

4. Ring piston

Ring piston dibuat dari besi cor spesial, dimana diameter ring piston sedikit lebih besar dari pada diameter luar piston. Ring piston dipasang pada alur piston, dimana bagian luar ring berhubungan dengan cylinder, fungsinya sebagai daya pegas dan menahan tekanan pembakaran.

Oleh karena itu, antara dinding cylinder dan piston tidak terjadi kebocoran. Dan dalam hal ini ring piston juga mentransfer panas ke cylinder. Pada umumnya digunakan 2 ring kompresi yang atas disebut Top ring dan yang bawah disebut Second ring.

Top ring / Ring pertama

Top ring dichrome plating, sehingga cukup untuk menahan temperatur dan tekanan yang tinggi, untuk menahan temperatur dan tekanan yang tinggi. Untuk itu ring piston harus mempunyai ketahanan aus yang tinggi. Ada beberapa ring yang dilapisi teflon.

Second ring / Ring kedua

Seperti halnya “Top ring”, juga berfungsi sebagai pengkompresi dan membentuk lapisan oli (oil film) dengan special treatment (parkerizing .. ditutup dengan lapisan penyerep) untuk kekuatan.

Ring expander / Expander ring

Expander ring ditempatkan antara ring dan piston, untuk menambah tegangan ring sehingga dapat menambah kemampuan sealing/perapat. dan juga efektive untuk mengurangi ring noise.

Bentuk ring piston.

Piston rings mempunyai banyak tipe, dan bentuk penampang pada bagian ujungnya. Bentuk penampang menunjukkan karakteristik dari ring.

Tipe Plain/Plain type

Ring yang biasa dipakai mempunyai penampang “segi empat”.

Tipe Keystonel/keystone type

Penampang dibuat seperti keystone, ring ini juga didesain agar mudah terdorong oleh tekanan pembakaran, sehingga semua permukaan dapat bersinggungan dengan dinding cylinder. Ring piston juga harus dapat bergerak keluar masuk dalam alur untuk mancegah pembentukan carbon pada alur, dan menjaga agar tidak lengket pada alur ring.

Tipe L-shaped ring

Penampangnya berbentuk “L” Shaped ring, sehingga dengan demikian mempunyai permukaan singgung yang lebih lebar, sehingga memberikan factor “Sealing yang bagus. Tapi ring ini mempunyai hambatan singgung yang tinggi. oleh karenanya kurang baik untuk mesin kecapatan tinggi.

5. Crankshaft dan Connecting Rod

Crankshaft atau poros engkol, merubah gerakan lurus menjadi gerakan putar, dan waktu yang sama membantu flywheel mengurangi fluktuasi kecepatan poros engkol. Susunan poros engkol terdiri dari (gabungan dengan flywheel), connecting rod, crank pin, dan bearing.

Poros engkol untuk mesin dua cylinder, posisi connecting rod berlawanan dan crank pin dipasang berlawanan 180 ° sehingga dinamakan crank shaft 180°.

Untuk mengurangi getaran, flywheel dipasang timah atau tembaga, juga untuk mengurangi fluktuasi kecepatan poros. Poros engkol ditopang oleh ball bearings pada kedua ujungnya, dan biasanya seal oli dipasang diluar bearing untuk menjaga kebocoran kompresi.

6. Crankcase

Crankcase terbuat dari aluminium diecasting dengan sedikit campuran logam. Crankcase terdiri dari dua bagian yang dapat dipisahkan separoh kekanan dan separoh kekiri, atau separoh keatas, dan separohnya lagi kebawah. Berfungsi untuk menutup poros engkol, kopling, dan transmisi.

Permukaan yang terpasang pada cylinder, dan case cover, harus sama baiknya dengan permukaan pasangannya. Pemasangan crankcase diberi seal atau packing untuk mencegah kebocoran compresi dan oli.

Berputarnya part-part pada crankcase disanggah oleh bearing, dan bushing. Adapun seal oli juga berfungsi untuk mencegah kebocoran compresi. adapun packing, gasket seal cair, dipakai sebagai seal komponen yang tidak bergerak.

Tipe crankcase terpisah secara mendatar

Crankcase tipe ini digunakan untuk mesin satu cylinder, untuk membongkarnya perlu alat khusus

Tipe crankcase terpisah ke atas

Crankcase tipe ini, digunakan untuk mesin cylinder banyak. dibandingkan dengan mesin tipe mendatar, tipe ini lebih mudah menempatkan seal, antara crankcase dan bearing untuk membongkar tidak diperlukan alat khusus.

Aturan urutan pengencangan baut dan mur

Jika akan mengencangkan Mur dan Baut yang terdiri dari banyak baut, dalam satu bidang, cara pengencangannya harus dua tahap. pertama pengencangan sementara, selanjutnya pengencangan akhir secara silang dan berurutan.

Setelah pengencangan, periksa kelancaran gerak putar poros engkol, dan komponen-komponen yang lainnya.

Aturan pengencangan : Dari dalam keluar

Pengendoran : Dari luar kedalam

7. Bearing dan seal oli

Bearing

Friksi selalu terjadi antara 2 objek yang bergerak satu sama lainnya.

Friksi ini akan menyebabkan beban dan timbulnya panas yang dapat menghambat gerakan gerakan. Besarnya hambatan ini tergantung dari luas permukaan singgung, beban, dan kecepatan gerak.

Untuk inilah fungsi bearing untuk memegang As, menjaga agar tetap pada posisinya (stabil). Menjaga friksi dalam batas minimum dan menjamin kelancaran operasi. Beban yang ditopang oleh bearing adalah beban radial (beban tegak lurus dengan arah poros) dan beban tekan (sejajar dengan poros) beban ini dapat terjadi secara terpisah atau dalam satu rangkaian.

Tipe Bearing dan pemakaiannya :

Plain bearing, bushing

Terutama digunakan pada beban radial yang besar. Half plain bearing (metal) digunakan untuk menopang crankshaft penyambungan connecting rod pada mesin empat langkah. Pada bagian tengahnya terdapat lubang oli atau alur oli untuk memberikan celah pelumasan dan bahan dasarmya dari baja yang dilapisi campuran besi putih seperti tin, timah, atau zinc atau campuran besi aluminium, atau besi magnesium.

Metal cylinder yang disebut bushing, digunakan pada tangkai stang piston (connecting rod) bearing transmisi, atau bearing kopling dengan alur oli, atau lubang yang dibentuk pada permukaan luar atau dalam.

Materialnya tersusun dari campuran tembaga seperti gan metal, atau phospor bronże alloy.

Ball bearing, roller bearing

Terdiri dari ball race dan ball atau roller, dan retainer. Digunakan pada beban radial, beban tekanan, atau keduanya tergantung dari bentuknya. Ball bearing, adalah yang menggunakan bola baja. Paling sering digunakan pada sepeda motor.

Tipe bearing dengan beban radial, jalur yang dalam digunakan untuk menahan beban tekanan. Yang mana bola bajanya terletak dijalur dalamnya digunakan pada crank shaft, as roda dll.

Roller ball bearing adalah bearing yang menggunakan roller. Area kontaknya luas sehingga kapasitasnya juga besar. Ada bearing yang digunakan untuk beban radial dan beban aksial, bentuk rollernya bisa cylinder, cone, atau bentuk jarum disebut juga needle roller bearing dan digunakan untuk connecting rod dan poros transmisi.

Ball bearing

Tipe ini digunakan untuk beban radial dan beban thrust load. Tapi pada umumnya dipakai pada beban radial

Identifikasi Bearing

Pernah dengar kan bearing dengan ukuran 6204 C3. Apa arti dari angka-angka tersebut, ini penjelasannya.

6 = Tipe bearing

2 = Beban maksimum

04 = Diameter dalam bearing

C3 = Bearing dengan kelonggaran

Tipe Lain

D = Salah satu sisinya dengan seal karet

DD = Kedua sisinya dengan seal karet

Z = Salah satu sisi tertutup plat besi

ZZ = Kedua sisi tertutup plat besi

Cara penanganan Bearing

  1. Jangan salah memih tipe dan ukuran bearing
  2. Pada sat memeasang bearing pada casing, berikan tekanan pada sisi luarnya dan pada saat memasang pada poros, berikan tekana pada sisi dalamnya (pergunakan metal)
  3. Jaga kerataan pada saat pemasangan, (perhatikan jika ada bunyi-bunyi aneh, dan tergoresnya permukaan casingnya)
  4. Putar bearing dan periksa kelancarannya, dan suara-suara aneh bila ada
  5. Oleskan gemuk sebelum terpasang dan setelah terpasang
  6. Pada saat menyimpan Bearing, bungkus dengan kertas minyak, untuk menghindari karat.

Seal Oli

Seal oli berfungsi untuk menjaga agar oli pelumas tidak mengalir keluar, atau mengalir kedalam. Juga berfungsi untuk melindungi crankcase dan mencegah material lain masuk kedalam. Seal oli tersedia dalam beberapa tipe, dengan ukuran yang bervariasi, bentuk, material, dll.

Penggunaan seal oli, harus disesuaikan dengan tempat, kondisi pemakaian.

Konstruksi dan fungsi bagian seal oli

Seal oli dibuat dari bahan synthetic nitrile rubber dan reinforcing ring (penguat). Terdiri dari Main lip (seal utama) yang menempel pada As dengan seal oli dan dust lip (seal debu) yang berfungsi menaha debu. dan reinforcing ring, yang menjaga kedua komponen tadi dari perubahan bentuk.

Dan pir yang menimbulkan cukup tekanan pada Main lip. Perlakuan sealing tidak hanya bekerja saat Main lip menempel di As, tetapi juga menampung oli. jika tidak, oli akan keluar.

Nitrile rubber bervariasi tergantung dari aditive yang digunakan dan sesuai kebutuhan untuk menahan panas, pemuaian, dan zat asam. Untuk menjaga panas yang tinggi biasanya Main lip dilapisi dengan teflon (seperti sealcrankshaft).

Tipe seal oli

Ada banyak tipe seal oli, tergantung dari jumlah main lipnya. jumlah dust lipnya, ada tidaknya per, bentuk dari reinforcing ringnya ukuran (diameter dalam, diameter luar, dan lebarnya) dan komposisi bahan karetnya.

Dimensi seal oli

Contoh dengan ukuran S 28 47 7

S = Tipe

28 = diameter dalam

47 = diameter luar

7 = lebar

Cara-cara penanganan seal oli

  1. Pastikan ukuran dan tipenya sesuai.
  2. Pastikan ketepatan arah pemasangannya
  3. Pastikan agar per tidak terlepas (ada yang tanpa per)
  4. Periksa dan bersinkan apakah tidak ada kerusakan pada bagian Lip/lidah
  5. Jaga kerataan saat pemasangan (gunakan plat besi)
  6. Berikan pelumasan secukupnya pada Lip/lidah (gunakan gemuk)
  7. Chek terhadap bunyi-bunyi aneh pada shaft dan periksa kerusakan spline dan chamfered.
  8. Saat menyimpan seal oli, bungkus dengan kertas minyak.

Seal spiral dengan lip dari teflon (untuk crankshaft)

Seal oli trbuat dari karet yang sangat kuat (teflon) yang tahan panas, tahan terhadap gaya tekan dan gesek, dibuat dengan metode khusus untuk meningkatkan daya tahan dan di bentuk menjadi spiral seal (dengan lip grove/alur lidah) untuk memaksimalkan daya sealing.

Nah, itulah artikel teknik otomotif yang membahas Konstruksi dan fungsi komponen pada mesin 2 tak sepeda motor.

Semoga bermanfaat.(*)

About Aditya Riyan

Admin dan Penulis Tunggal di Blog ini, Sekaligus Masih Aktif Menjadi Mekanik

Check Also

akibat oli mesin habis pada motor

Akibat Oli Mesin Habis Pada Motor, Turun Mesin!

MasBengkel.com – Tahu gak, apa fungsi pelumasan (oli) pada motor? Jika belum tahu, baca ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *