Cara Kerja Pengapian CDI Beserta Komponen Disertai Fungsinya

Masbengkel.com - Berbicara mengenai sistem pengapian motor,sebagai orang awam tentu yang pertama kali disebut adalah busi. Komponen yang satu ini memang lebih dikenal terutama bagi oramg awam yang tidak memiliki dasar ilmu teknik.

Hal ini bisa di maklumi karena busi adalah ujung tombak pengapian motor. Di samping itu, busi menjadi komponen yang pengapian yang paling sering mengalami pergantian.

Kembali lagi ke topik pembicaraan tentang sistem pengapian pada motor. Sebelumnya mas bengkel telah mengulas mengenai cara kerja sistem pengapian konvesional. Serta pengenalan sistem pengapian cdi. Kali ini masbengkel akan mengulas lebih jauh lagi tentang cara kerja pengapian cdi.

Penjelasan kali ini tidak hanya memfokuskan tentang prinsip kerja sistem pengapian cdi tapi kami juga akan menjelaskan komponen yang terdapat pada sistem pengapian cdi disertai fungsi dari setiap komponen tersebut.

Sebelum membahas lebih jauh tentang prinsip dan cara kerja pengapian cdi, kita harus mengenali dulu sistem pengapian pada kendaraan bermotor, entah itu mobil atau motor. Berikut ini adalah beberapa jenis sistem pengapian, yaitu:
  • Sistem pengapian Konvensional
  • Sistem pengapian Transistor
  • Sistem pengapian CDI
  • Sistem pengapian DLI (Distributor less Ignition)

Silahkan baca selengkapnya tentang jenis-jenis pengapian tersebut di artikel ini. Atau kamu juga bisa membaca tentang cara kerja sistem pengapian konvesional.

Lalu, apa itu cdi? Dan bagaimana cara kerjanya sehingga mampu mengeluarkan percikan api pada busi? Simak ulasan masbengkel berikut ini:


Cara Dan Prinsip Kerja Pengapian CDI

Dalam penerapannya, pengapian CDI dibagi menjadi 2 macam, yaitu Sistem pengapian CDI-DC dan sistem pengapian CDI-AC. Cara kerja dari keduanya nyaris sama, hanya sumber dan arusnya saja yang berbeda.

Cara kerja sistem pengapian CDI-AC

Pada saat magnet akan menghasilkan tegangan AC dalam bentuk induksi listrik yang berasal dari kumparan atau biasa di sebut spool. Arus listrik akan dikirimkan ke CDI dengan tegangan antara 100-400volt, tergantung putaran mesin.

Selanjutnya arus bolak-balik (AC) yang datang kumparan di jadikan arus searah (DC) oleh dioda dan tersimpan di kapasitor pada unit CDI.

Kapasitor tidak akan menggantikan komponen sebelum pintu menjadi bekerja (SCR) bekerja. Bekerjanya SCR kebebasan telah mendapatkan sinyal dari kumparan / pulser CDI (Pulse generator) yang menandakanihir pengapian.

Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalir ke kumparan primer koil pengapian dengan tegangan 100-400volt, kemudian terjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV sampai 20 KV. Tegangan tinggi yang akan dilakukan dalam bentuk loncatan bunga api yang akan menghasilkan uang dan energi dalam ruang bakar.

Proses pengapian dilakukan dengan tutorial otomatis yaitu saat pengapian dilakukan bersama dengan peningkatan tegangan pulser (generator pulsa) akibat kecepatan putaran mesin motor.

Cara Kerja Sistem Pengapian CDI-DC

Sistem pengapian CDI-DC hampir sama tutorial dengan sistem pengapian CDI-AC, hanya pada sistem pengapian CDI-DC tegangan sumber dari bateray atau AKI (accu), bateray menyediakan suplai tegangan 12V ke inverter (bagian dari unit CDI). Kemudian inverter akan menaikkan tegangan menjadi tidak lebih lebih 350V. Tegangan 350V ini selanjutnya akan menambah kondensor / kapasitor. Dan arus baru akan dilepaskan ke koil wawasan telah ada perintah dari pulser CDI.

Keunggulan dari CDI-DC adalah tegangan yang berasal dari baterai (aki), tidak sama dengan sistem pengapian CDI-AC yang tegangannya naik turun ikut mesin.

Perbedaan Pengapian CDI Dengan Pengapian Lain:

  1. Sistem pengapian CDI menggunakan metode pengaliran arus betegangan tinggi untuk menghasilkan output yang lebih besar. Sementara pengapian biasa, menggunakan metode pemutusan arus.
  2. Sistem ini memiliki tingkat keawetan yang lebih baik, karena tidak ada komponen yang bergesekan sehingga minim untuk melakukan penyetelan.


Komponen Pada Sistem Pengapian CDI

1. Baterai

Fungsi baterai, adalah sebagai penyimpan arus listrik. Memang baterai ini tidak terlalu diprioritaskan karena kebutuhan sumber listrik akan dipenuhi oleh spul. Namun, pada motor injeksi baterai menjadi komponen yang cukup penting karena juga akan mengaktifkan ECU.

2. Spul & Rotor magnet

Spul dan rotor magnet adalah dua komponen yang berbeda, namun keduanya memiliki satu tujuan yakni untuk mengubah putaran dari poros engkol mesin menjadi listrik AC. Listrik ini yang menjadi sumber tenaga dari sistem pengapian.

Spul adalah komponen berbentuk kumparan statis yang terletak didalam rotor magnet, sementara rotor magnet adalah magnet berbentuk tromol yang terhubung ke poros engkol mesin. Rotor ini memiliki permanen magnet sehingga ketika poros mesin hidup, spul akan langsung meghasilkan arus.

3. Pulse igniter/pick up coil

Beberapa orang mungkin lebih familiar dengan kata pick up coil, karena fungsinya sebagai penjemput sinyal. Sinyal yang dimaksud adalah sinyal yang menunjukan timming pengapian mesin.

Cara kerja pulse igniter ini hampir sama seperti spul namun dengan versi lebih sederhana. Dalam satu putaran engkol, itu hanya terjadi satu kali perpotongan. Sehingga bukan arus listrik yang dikirimkan, melainkan sebuah sinyal PWM yang menunjukan RPM mesin dan timming pengapian. Sinyal ini kemudian akan dikirimkan ke SCR didalam CDI unit.

4. Voltage converter

Pengkonversi tegangan, diperlukan untuk memaksimalkan arus discharge, perlu diketahui prinsip kerja pengapian CDI itu berbeda dengan sistem pengapian mobil yang menggunakan platina. Pada mobil, induksi pada coil akan terjadi ketika platina memutuskan arus primer coil.

Namun pada CDI motor, induksi akan terjadi justru ketika arus primer dialiri oleh arus discharger. Namun agar induksi berjalan dengan maksimal dan cepat, maka arus discharge yang mengalir ke kumparan primer juga harus bertegangan lebih tinggi.

Converter inilah yang memungkinkan arus discharge memiliki tegangan lebih tinggi. Dalam satuan milisecon, tegangan listrik dari spul bisa dinaikan menjadi sekitar 300 Volt untuk mengisi Capasitor.

5. CDI Unit

Cara kerja sistem pengapian cdi

CDI unit bisa dibilang menjadi modul utama dari sistem pengapian CDI. Fungsi utamanya adalah sebagai penyalur tegangan ke coil melalui prinsip discharge. Didalam CDI unit terdapat komponen capasitor, kita tahu kalai capasitor itu mampu menyerap arus listrik, mampu menyimpan arus listrik yang diserap dan mampu melepaskannya dengan spontan.

Proses pelepasan arus ini akan diarahkan ke kumparan primer pada coil untuk melakukan induksi. Selain capasitor, ada pula komponen thrysistor atau SCR yang digunakan sebagai gate untuk melakukan dishcarging.

6. Kunci kontak

Kunci kontak berfungsi sebagai saklar utama sistem pengapian. Saat kunci kontak off, apa bisa kita hidupkan mesin ? tentu tidak. Meski spul menghasilkan arus listrik namun karena kunci kontak masih OFF maka CDI tidak akan memperloleh arus listrik.

7. Fuse

Fuse disebut juga dengan sekering

Fuse menjadi komponen yang tidak boleh dilupakan pada setiap rangkaian kelistrikan. Karena fungsinya sebagai pengaman rangkaian kelistrikan dari short to ground atau kosleting. Termasuk pada sistem pengapian, fuse dipakai untuk melindungi CDI unit ketika terjadi hubungan singkat arus listrik.

Cara kerja fuse adalah dengan memutuskan kawat tipis didalam fuse secara otomatis ketika arus yang melewati melebihi batas kemampuan fuse. Misal tertera fuse 10 A, artinya kalau arus listrik yang mengalir melebihi 10 A maka sekering akan putus dan skema kelistrikan akan mati.


8. Ignition coil

Ignition coil adalah komponen yang berfungsi menaikan tegangan kelistrikan motor, menjadi tegangan super tinggi mencapai 200 KV melalui proses induksi spontan. Prinsip kerjanya hampir sama dengan trafo step up.

Dimana jumlah lilitan pada kumparan sekunder lebih banyak daripada kumparan primer. Sehingga ketika kumparan sekunder menangkap gaya kemagnetan dari kumparan primer bisa terjadi peningkatan tegangan.

9. Busi

Busi disebut juga sparkplug

Busi berperan sebagai ujung tombak sistem pengapian, fungsi busi adalah untuk memercikan api didalam ruang bakar yang didapat dari skema induksi elektromagnet pada coil. Cara kerja busi adalah dengan mendekatkan elektroda yang bermuatan positif ke masa yang bermuatan negatif.

Karena sifat arus listrik selalu mencari masa, maka dengan celah sekitar 0,8 mm akan timbul loncatan elektron. Kalau tegangan pada elektroda kecil, maka loncatan elektron tidak akan terlihat. Namun karena tegangan pada elektroda itu mencapai 200 KV, maka loncatan elektron ini akan berbentuk seperti percikan api.

Itulah pembahasan mengenai cara kerja sistem pengapian CDI. Semoga bermanfaat.

Bergabunglah Bersama Ribuan Orang Lainnya di Komunitas Kami. Ketik Alamat Email Anda Melalui Kolom Berikut :

Belum ada Komentar untuk "Cara Kerja Pengapian CDI Beserta Komponen Disertai Fungsinya"

Posting Komentar

KAMI MOHON MAAF JIKA SETIAP KOMENTAR YANG MASUK AKAN DI MODERASI TERLEBIH DAHULU. KARENA KAMI MENGHINDARI HAL – HAL YANG TIDAK DI INGINKAN. TERIMA KASIH TELAH BERKOMENTAR.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel